ANALISIS KOMPREHENSIF FENOMENA SQUALL LINE DAN IMPLIKASI EKONOMI-FINANSIAL PERAYAAN TAHUN BARU JABODETABEK 2025-2026
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan letak geografis pada “Pacific Ring of Fire” menghadapi eksposur ekstrem terhadap multiple natural hazards mencakup gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, dan badai cuaca ekstrem.
Sesuai data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Indonesia mengalami rata-rata 3,000-3,500 bencana alam per tahun, dengan 90% bersifat hidrometeorologi (hujan lebat, banjir, puting beliung).
Dalam periode 2014-2025, Indonesia mengalami peningkatan signifikan baik frekuensi kejadian (dari 1,800 kejadian tahun 2014 menjadi 3,500 kejadian tahun 2025) maupun magnitude kerugian ekonomi.
Dalam periode 2014-2025, Indonesia mengalami peningkatan signifikan baik frekuensi kejadian (dari 1,800 kejadian tahun 2014 menjadi 3,500 kejadian tahun 2025) maupun magnitude kerugian ekonomi.
Squall Line didefinisikan secara meteorologis sebagai “Quasi-Linear Convective System” (QLCS) atau secara umum sebagai “Mesoscale Convective System” (MCS) dengan struktur linear yang memanjang minimal 250 kilometer dengan panjang rata-rata 300-1,000 kilometer.
Comments
Post a Comment